Setiap muslim yang telah berikrar
bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad rasulnya, ia harus senantiasa
memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas
kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai
tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam. Namun dalam realitas
kehidupan dan fenomena ummat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang
memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu meimplementasikan dalam
seluruh kisi-kisi kehidupannya. Dan orang yang mamupu mengimplementasikannya
belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitment dan
istiqamah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.
Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Secara terminology, istiqomah bisa diartikan dengan beberpa pengertian berikut ini:
– Abu Bakar Shiddiq
ra ketika ditanya tentang istiqamah ia menjawab; bahwa istiqamah adalah
kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)
– Umar bin Khattab r.a. berkata: “Istiqamah adalah komitment terhadap perintah dan larangan
dan tidak boleh menipu sebagaimana tipu musang”
– Utsman
bin Affan ra berkata: “Istiqamah adalah mengikhlaskan
amal kepada Allah swt”
– Ali bin
Abu Thalib ra berkata: “Istiqamah adalah melaksanakan
kewajiban-kewajiban”
– Hasan Bashri berkata: “Istiqamah adalah melakukan ketaatan dan
menjauhi kemaksitan”
– Mujahid berkata:
“Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah
swt”
– Ibnu Taimiah
berkata: “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepaada-Nya
tanpa menengok kiri kanan”
Jadi muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Ia bak batu karang yang tegar mengahadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degredasi dalam perjalanan hidupnya. Ia senantiasa sabar dalam memegang teguh tali keimanan. Dari hari ke hari semakin mempesona dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam. Ia senantiasa menebar pesona Islam baik dalam ruang kepribadiannya, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Itulah cahaya yang selalu menjadi pelita kehidupan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan kehidupan.
5 Tips Istiqomah
Kesucian dan ketakwaan yang ada
dalam jiwa harus senantiasa dipertahankan oleh setiap muslim. Hal ini
disebabkan kesucian dan ketakwaan ini bisa mengalami pelarutan, atau bahkan
hilang sama sekali. Namun, ada beberapa tips yang membuat seorang muslim bisa
mempertahankan nilai ketakwaan dalam jiwanya, bahkan mampu meningkatkan
kualitasnya. Tips tersebut adalah sebagai berikut;
Pertama, Muraqabah
Muraqabah adalah perasaan seorang
hamba akan kontrol ilahi dan kedekatan dirinya kepada Allah. Hal ini
diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh
larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup
tidak sesuai dengan syariat-Nya.
“Dialah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa
yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun
dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja
kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid: 4)
Rasulullah saw. bersabda-ketika
ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu
melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat
kamu.” (H.R. Bukhari)
Kedua, Mu’ahadah
Mu’ahadah yang dimaksud di sini
adalah iltizamnya seorang atas nilai-nilai kebenaran Islam. Hal ini dilakukan
kerena ia telah berafiliasi dengannya dan berikrar di hadapan Allah SWT.
Ada banyak ayat yang berkaitan
dengan masalah ini, di antaranya adalah sebagai berikut.
“Dan tepatilah perjanjian dengan
Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu)
itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu
(terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu
perbuat.” (An-Nahl: 91)
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah
kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu
mengetahui.” (Al-Anfal: 27)
Ketiga, Muhasabah
Muhasabah adalah usaha seorang hamba
untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya, baik sebelum maupun
sesudah melakukannya. Allah berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)
“Orang yang cerdas (kuat) adalah
orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang
yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada
Allah.” (H.R. Ahmad)
Umar bin Khattab ra berkata,
“Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”
Keempat, Mu’aqabah
Mu’aqabah adalah pemberian sanksi
oleh seseorang muslim terhadap dirinya sendiri atas keteledoran yang
dilakukannya.
“Dan dalam qishash itu ada (jaminan
kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu
bertakwa.” (Al-Baqarah: 179)
Generasi salaf yang soleh telah
memberikan teladan yang baik kepada kita dalam masalah ketakwaan, muhasabah,
mu’aqabah terhadap diri sendiri jika bersalah, serta contoh dalam bertekad
untuk lebih taat jika mendapatkan dirinya lalai atas kewajiban. Sebagaimana
disebutkan dalam beberapa contoh di bawah ini.
1. Dalam sebuah riwayat disebutkan
bahwa Umar bin Khaththab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka
didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau
berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah
shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”
2. Ketika Abu Thalhah sedang shalat,
di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari
shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut,
beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin, sebagai
sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.
Kelima Mujahadah (Optimalisasi)
Mujahadah adalah optimalisasi dalam
beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
“Hai orang-orang yang beriman,
ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan,
supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad
yang sebenar-benarnya…” (Al-Hajj:
77-78)
“Rasulullah saw. melaksanakan shalat
malam hingga kedua tumitnya bengkak. Aisyah ra. pun bertanya, ‘Mengapa engkau
lakukan hal itu, padahal Allah telah menghapuskan segala dosamu?’ Maka,
Rasulullah saw. menjawab, ‘Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi seorang hamba
yang bersyukur.'” (H.R. Bukhari-Muslim)
Sumber:
Hari/Tanggal :
Jum’at/ 25 September 2015
Nama Masjid : Miftahul Huda
Alamat
Masjid : Jalan Dewi
Sri Dusun1 desa Untoro Lampung Tengah
Nama
Khotib : Bapak Mu’tamar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar