Kebiasaan beristighfar merefleksikan
kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan KeMaha Pengampunan
Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan
kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam. Rasulullah
bersabda,
“Sesungguhnya Allah senantiasa
membuka TanganNya di siang hari untuk memberi ampunan kepada hambaNya yang
melakukan dosa di malam hari, begitu pula Allah senatiasa membuka TanganNya di
malam hari untuk memberi ampunan bagi hambaNya yang melakukan dosa di siang
hari”.
Perintah beristighfar di dalam Al-Qur’an
juga selalu beriringan dengan perintah bertaubat,” Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya”.
Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam
tafsir Al-Munir mengemukakan rahasia penggabungan perintah beristighfar dan
bertaubat pada kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an bahwa tidak ada jalan untuk
meraih ampunan Allah melainkan dengan menunjukkan prilaku dan sikap “taubat”
yang diimplementasikan dengan penyesalan akan kesalahan masa lalu, melepas
ikatan-ikatan (jaringan) kemaksiatan dalam segala bentuk dan sarananya serta
tekad yang tulus dan jujur untuk tidak mengulangi kembali perbuatan-perbuatan
dosa di masa yang akan datang. Dalam kaitan ini, taubat merupakan penyempurna
dari istighfar seseorang agar diterima oleh Allah swt.
Secara aplikatif, kebiasaan
beristighfar sudah dicontohkan oleh Rasulullah r. Tercatat dalam sebuat riwayat
Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa
beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam
Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim).
Pelajaran yang diambil dari prilaku
Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan
kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas istighfar ini senantiasa berlangsung
menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali. Para malaikat yang jelas
tidak pernah melanggar perintah Allah justru senantiasa beristighfar memohon
ampunan untuk orang-orang yang beriman sebagai sebuah pelajaran yang berharga
bagi setiap hamba Allah yang beriman.
Terdapat empat keutamaan dan nilai
dari amaliah istighfar dalam kehidupan seorang muslim:
1. Istighfar merupakan cermin akan
kesadaran diri orang-orang yang bertakwa.
“Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang
dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui“. (Ali Imran: 135)
2. Istighfar merupakan sumber kekuatan umat dan energi bagi eksistensi sebuah bangsa.
2. Istighfar merupakan sumber kekuatan umat dan energi bagi eksistensi sebuah bangsa.
Bangsa ‘Aad, kaum nabi Hud misalnya,
yang dikenal dengan kekuatan mereka yang luar biasa, masih diperintahkan oleh
nabi mereka agar senantiasa beristighfar untuk menambah kekuatan mereka.
“Dan (dia berkata): “Hai kaumku,
mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia
menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan
kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52).
Bahkan Rasulullah dalam salah satu
haditsnya menegaskan bahwa eksistensi sebuah umat ditentukan di antaranya
dengan kesadaran mereka untuk selalu beristighfar, sehingga bukan merupakan aib
dan tidak merugi orang-orang yang bersalah lantas ia menyadari kesalahannya
dengan beristighfar, memohon ampunan kepada Allah.
3. Istighfar dapat menolak bencana
dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah
“Dan Allah sekali-kali tidak akan
mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah
akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” menukil riwayat dari Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah r
bersabda, “Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelamat bagi
umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku
telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat,
yaitu istighfar”. Bahkan Ibnu Abbas menuturkan bahwa ungkapan istighfar
meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan
bahaya.”(Al-Anfal:33).
4. Istighfar akan memudahkan urusan
seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang.
“Barangsiapa yang mampu melazimkan istighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Sumber:
Hari/Tanggal :
Jum’at/ 4 September 2015
Nama Masjid : Miftahul Huda
Alamat
Masjid : Jalan Dewi
Sri Dusun1 desa Untoro Lampung Tengah
Nama
Khotib : Bapak Ponijo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar